Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Rencana Pemerintah Buka Sekolah di Zona Kuning Saat Pandemi Covid-19

Dwi Novianasari
02 Agustus 2020 | 19:29 WIB
ilustasi. Foto, Edy Wayono/detik.com
Kurvanews.com-Jakarta. Rencana pemerintah untuk membuka kembali sekolah di zona kuning disebut pengamat pendidikan sebagai "bermain api", sebab dianggap terlalu berisiko pada keselamatan siswa. Apalagi masih banyak sekolah di zona hijau belum menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Contoh kasus terkini adalah dua staf sekolah positif Covid-19 di Pariaman, Sumatera Barat. Peristiwa itu membuat pemerintah setempat segera menutup kegiatan belajar mengajar tatap muka untuk kedua kalinya dan beralih kembali ke kelas online.

Pada 16 Juni lalu, Kemendikbud memutuskan untuk menggelar kembali sekolah tatap muka di zona hijau mulai 13 Juli.

Pengamat pendidikan, Itje Choidijah , memandang rencana pembukaan sekolah di luar zona hijau terlalu berisiko pada keselamatan anak-anak. Apalagi, zona kuning memiliki risiko penularan lebih besar ketimbang zona hijau.

Sebelumnya, Ketua Satgas Covid-19 , Doni Monardo, menuturkan pemerintah tengah mempertimbangkan untuk memberikan izin pembelajaran secara tatap muka di daerah zona kuning atau risiko rendah virus corona.

Sementara pengamat pendidikan, Itje Chodidjah, menilai rencana pemerintah untuk membuka sekolah di zona kuning lantaran adanya desakan dari orang tua yang memaksakan untuk anaknya ke sekolah.

"Karena sepertinya orang tua sudah tidak sanggup untuk menghadapi anak-anak belajar di rumah", jelas Itje.

Kendala fasilitas gawai dan koneksi internet yang buruk dialami oleh hampir semua siswa di daerah, maka dari itu pemerintah menerapkan belajar tatap muka kembali khusus untuk daerah zona hijau.

Sekjen Kemendikbud , Ainun Naim, mengatakan semua sekolah di Pariaman terpaksa menutup kembali untuk kedua kalinya dan beralih kembali ke kelas online pada 20 Juli setelah dua orang staf sebuah sekolah di kota itu dinyatakan positif Covid-19.

Berdasar SKB tentang pedoman penyelenggaraan pembelajaran di zona hijau, jenjang pendidikan SMP dan SMA dan sederajat dimulai pada 13 Juli, menyusul kemudian jenjang pendidikan sekolah dasar yang dijadwalkan dibuka kembali pada September 2020, sedangkan TK dan PAUD baru akan dibuka kembali pada November 2020.

SKB itu mengatur jika ada penambahan kasus atau level risiko di suatu daerah naik, maka satuan pendidikan wajib ditutup kembali.

Mengingat kondisi masih banyaknya satuan pendidikan yang belum menerapkan protokol kesehatan yang ketat , pengamat pendidikan Itje Chodidjah menuturkan belum saatnya sekarang untuk membuka sekolah di zona kuning, yang notabene lebih berisiko ketimbang zona hijau.

Pada akhir Mei silam, lebih dari 200 sekolah di Korea Selatan tutup kembali setelah beberapa hari sempat dibuka, karena ada lonjakan baru kasus virus corona.

Hal senada diungkapkan oleh Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, yang menyebut perlindungan anak adalah pertimbangan yang tidak bisa ditawar.

"Jika dipaksakan, akan sangat berisiko pada keselamatan jiwa anak", ungkap Ubaid.

Saat ini, lanjut Ubaid , sudah banyak sekolah, madrasah, bahkan pesantren yang menjadi klaster baru dalam penyebaran Covid-19.

"Ini harus diwaspadai. Jika tidak, korban anak akan banyak berjatuhan , dan pandemi akan terus berkepanjangan. Kebijakan yang salah , akan berdampak pada kesengsaraan seluruh rakyat Indonesia", imbuhnya

Lebih jauh, Itje menjelaskan saat ini pemerintah menghadapi dilema pendidikan di tengah pandemi.

"Tantangan ini berat sekali menurut saya, karena bagaimana mengatur segini banyaknya anak untuk tetap mendapatkan pendidikan tanpa mereka datang ke sekolah. Ini menantang sekali," kata Itje.

Jalan tengahnya, menurut Itje , harus ada panduan yang jelas dari pemerintah terkait kurikulum pendidikan di tengah pandemi. Namun dia mengakui, hal ini tidak mudah.

"Untuk jalan tengahnya, sekolah harus membuat program yang tidak hanya ngasih soal pada anak anak, tetapi lebih pada mengatur apa tujuan yang akan dicapai", tandas Itje

Kendati begitu, Itje ini mengatakan pelaksanaannya akan sulit karena orang tua siswa sudah terbiasa dengan pendidikan tradisional, yakni dengan membayar biaya sekolah sebagai imbalan pendidikan yang diterima putra-putrinya.


"Itu tidak bisa karena bagaimanapun juga orang tua turut bertanggungjawab", tutupnya.  *(kn/Dn)

  • Rencana Pemerintah Buka Sekolah di Zona Kuning Saat Pandemi Covid-19
  • 0

Terkini