Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Kuda Hitam dan Kejutan di Pilkada Gunung Kidul

KURVANEWS.COM
05 Agustus 2020 | 16:11 WIB
Ilustrasi Pilkada. Foto/headlinenews.id
Kurvanews.com-Yogyakarta. Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gunungkidul, partai politik disibukkan dengan penjaringan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati untuk konstestasi Desember mendatang.

Melihat dinamika politik Gunungkidul saat ini, PDIP dikenal sebagai partai terbesar diperkirakan mengusung Bambang-Wisnu. Sementara, Partai Golkar dan PKB akan mengusung Sunaryono-Heri Susanto. Begitu juga PKS, Gerindra dan PAN akan mengusung pasangan Soetrisno-Mahmud Ardi. Selain itu, Partai Nasdem akan bertekad mengusung Immawan Wahyudi-Suharno.

Konfrigurasi tersebut menjadi perhatian publik terhadap incumbent Immawan Wahyudi, selaku Wakil Bupati Gunungkidul yang diwacanakan akan diusung Partai Nasdem. Hal itu tentu menjadi pertanyaan besar "Ada apa dengan internal PAN, sehingga kader terbaiknya tidak diusung dalam Pilkada Gunungkidul?".

Immawan Wahyudi dan Persyarikatan Muhammadiyah

Immawan Wahyudi dikenal sebagai kader tulen Persyarikatan Muhammadiyah. Di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, track record Immawan Wahyudi tidak ada keraguan lagi tentang pengabdiannya terhadap persyarikatan.

Jejak yang ditinggal bukan hanya pada level wilayah saja, melainkan sampai pada level nasional, hal itu dibuktikan dengan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tahun 1983-1986.

Kuda Hitam dan Kejutan Pilkada Gunungkidul 2020

Immawan Wahyudi merupakan kader terbaik PAN, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua DPW PAN selama dua periode sejak 2005 dan berakhir pada tahun 2014, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan.

Jejaknya sebagai kader tulen partai yang didirikan Amien Rais itu, membawanya menjadi Wakil Bupati Gunungkidul 2014. Namun, di kontestasi Pilkada Gunungkidul mendatang, PAN tidak mengusungnya. Alih-alih mengusung Immawan, PAN justru memutuskan mengusung Soetrisno-Mahmud Ardi Widanto berkoalisi dengan PKS, Demokrat, dan Gerindra.

Konon katanya, PAN tidak bisa mengusung Immawan Wahyudi sebagai calon bupati karena kesulitan mendapatkan mitra koalisi. Kesulitan itu konon tidak dapat dilepaskan dari kekhawatiran banyak pihak, apabila PAN mengusung Immawan Wahyudi, akan sulit dibendung apabila dihadapkan pada kombinasi popularitas, elektabilitas, dan mesin partai yang solid akan sulit dilawan.

Pasca kongres di Kendari, terjadi perubahan di tubuh PAN yang pada akhirnya berdampak pada kontestasi Pilkada di DIY. Suhu politik internal yang inkonsistensi diperlihatkan semakin jelas. Sebelumnya, Ketua DPD PAN Bantul, Mahmud Ardi, dikabarkan mendapakan rekomendasi dari DPP PAN untuk maju di Pilkada Bantul, tetapi dinyatakan gagal karena tidak mendapatkan pasangan calon dan koalisi, sehingga saat ini peta politik di Bantul belum jelas.

Peta politik PAN Bantul tidak berhenti sampai di situ. Nama Ardi yang sebelumnya dinyatakan gagal tiba-tiba dimunculkan dalam bursa Pilkada Gunungkidul sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Soetrisno.

Meski dinilai membingungkan, namun tidak menutup kemungkinan banyak pihak yang tahu bahwa sosok Ardi merupakan putra bendahara DPP PAN Totok Daryanto, pasca Kongres Kendari, tentu tidak terlalu sulit memahaminya.

Kepastian pencalonan Immawan Wahyudi bukan kabar yang menggembirakan bagi para kompetitor. Ada beberapa analisa untuk mengatakan hal itu.

Pertama, sebagai incumbent, popularitas dan elektabilitas Immawan Wahyudi mengungguli pasangan calon bupati lainnya berdasarkan hasil survei salah satu lembaga survei nasional beberapa waktu lalu.

Kedua, kepastian majunya Immawan tidak lepas dari restu dan dukungan yang diberikan pendiri PAN, Amien Rais, yang dinilai berseberangan dengan DPP PAN. Dukungan Amien Rais pasti akan berpengaruh besar bagi akar rumput PAN sekaligus Muhammadiyah.

Ketiga, faktor Bupati Gunungkidul, Badingah, diketahui sebelumnya mendukung Wahyu Purwanto yang diusung Nasdem. Dengan batalnya Wahyu Purwanto untuk mengikuti laga Pilkada, dukungan orang nomor satu di Gunungkidul itu, berdasarkan infromasi dari kalangan internal Nasdem, akan diberikan kepada Immawan Wahyudi, sangat mungkin Badingah akan berkampanye untuk Immawan.

Keempat, faktor Nasdem. Dari semua partai-partai dan calon kandidat yang akan berlaga, Nasdem dan juga calon yang diusungnya saat itu, Wahyu Purwanto, merupakan Partai dan kandidat yang paling siap sejak awal. Ini tidak mengherankan, karena hanya Nasdem selama ini yang sudah sejak awal memastikan calonnya. Kemudian ditambah lagi dengan figur calon wakil bupatinya, Suharno, yang merupakan sosok dengan basis masa dan jaringan yang mumpuni.

Dari gambaran variabel-variabel di atas, posisi pasangan Immawan-Suharno yang muncul di detik-detik akhir sangat besar potensinya menjadi "kuda hitam" yang difavoritkan. Di sisi lain, kemunculannya bisa menjadi angin segar bagi pasangan Bambang Wisnu-Bunyamin dan Sunaryanto-Heri Susanto, mengingat ceruk suaranya yang overlap dengan pasangan Soetrisno-Ardi.

Sebagai catatan dengan garis bawah yang tebal, kepastian majunya Immawan dalam kontestasi, secara khusus merupakan kabar buruk bagi PAN dan pasangan Soetrisno-Ardi. Restu dan dukungan yang diberikan oleh Amien Rais, pasti akan sangat berpengaruh terhadap pemilih PAN, terlebih Muhammadiyah.

Apalagi kabarnya, Amien Rais akan aktif berkampanye untuk Immawan, minimal akan membuat suara PAN, apalagi Muhammadiyah akan terbelah dengan kecenderungan lebih besar ke Immawan.

Alasan utamanya adalah, di antara delapan kandidat, Immawan Wahyudi adalah satu-satunya yang dengan jelas dapat dianggap merepresentasikan Muhammadiyah. Bahkan, lebih jauh lagi dapat dikatakan, di antara delapan kandidat yang berlaga, Immawan merupakan satu-satunya representasi kalangan santri.

Bagi pasangan Seotrisno-Ardi, tentu ini adalah problem yang sangat serius. Apabila Immawan belum tentu akan berhasil memenangkan Pilkada Gunungkidul, tetapi suranya potensi perolehan suara pasangan ini sudah tergambar di depan mata. Apalagi popularitas dan elektabilitas pasangan ini masih dibawah pasangan-pasangan lain.

Setelah mencermati konfigurasi dan dinamika yang ada dan dengan memperhatikan segala kalkulasi pemenangan, akan sangat merugikan bagi PAN jika "memaksakan" mendukung pasangan calon yang potensi menangnya tipis. Akan lebih bijaksana kalau PAN memutar haluan dengan menyatukan potensi yang ada dengan mendukung pasangan yang apabila didukung PAN akan bisa memberikan kepastian kemenangan.

Hal itu tidak sulit untuk dilakukan mengingat kedekatan Zulkifli Hasan dengan Surya Paloh. Konon, sebelumnya mereka sudah bersepakat berkoalisi dalam Pilkada Gunungkidul mengusung Wahyu Purwanto berpasangan dengan kader PAN.

Paling penting adalah menyatukan potensi suara PAN dan Muhammadiyah, akan sangat merugikan bagi PAN apabila dalam kontestasi Pilkada di DIY berbeda dukungan dengan Amien Rais dan membuat PAN terbelah.
  • Kuda Hitam dan Kejutan di Pilkada Gunung Kidul
  • 0

Slider

Slider

Terkini