Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Bukan Sekedar Pernikahan Ala Aktivis

KURVANEWS.COM
12 Agustus 2020 | 19:00 WIB

[Ashad K Djaya - Bukan Sekedar Pernikahan Ala Aktivis]

Kurvanews.com-Opini. Tak terasa anak saya yang kuliah di UGM sudah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sinyal untuk orang tua seperti saya agar mulai menyiapkan diri dengan kriteria dan metode pendaftaran calon menantu. Entah anak saya sudah punya calon atau belum, tapi sebagai orang tua saya merasa sudah harus siap-siap punya menantu. Ini insya Allah akan menjadi pengalaman pertama saya dalam seleksi calon menantu.

Memang untuk seleksi calon menantu saya tergolong sebagai pemula. Namun perlu diketahui kalau urusan ngunduh mantu dan merayakan pernikahan, saya tergolong berpengalaman. Khususnya urusan pernikahan aktivis pergerakan di komunitas mahasiswa, HMI dan IMM. Setidaknya sudah lebih dari empat kali saya menfasilitasi acara resepsi pernikahan adik-adik mantan aktivis gerakan mahasiswa di Yogyakarta.

Awal mulanya karena seringnya saya memprovokasi para aktivis yang dolan ke padepokan saya untuk tidak menikah secara biasa-biasa saja. Apa gunanya sekian tahun menjadi aktivis kalau menikahnya hanya sekedar pesta-pesta. Sebuah provokasi yang saya bangun untuk menggugah nalar kritis para calon pengantin. Resepsi pernikahan aktivis jangan sekedar seremoni makan-makan saja. Idealnya resepsi penikahan aktivis itu menjadi ajang deklarasi visi pernikahannya.

Ketika saya memprovokasi para aktivis untuk menjalani resepsi pernikahan yang tidak biasa itu bukan didasari atas sikap anti budaya atas tradisi upacara pernikahan pada umumnya. Justru itu saya pelajari dari hakikat upacara pernikahan tradisional. Dalam adat istiadat masyarakat Jawa seluruh prosesi memiliki makna yang menyiratkan pesan tertentu. Bunga-bunga yang digunakan pun merupakan simbol pesan juga. Semua merupakan nasehat kepada pengantin untuk menegaskan visi kehidupan barunya setelah menikah.

Berbagai simbol dalam prosesi  pernikahan Jawa seperti nontoni, lamaran, pasang tarub, nyantri, midodareni, ijab, panggih, balangan suruh, dan sebagainya, tidak lagi mudah dipahami sebagai pesan oleh anak-anak muda sekarang ini. Itu karena proses kreatif anak-anak muda itu, termasuk  pendidikan yang dijalaninya, tidak akrab dengan alam pikir simbolik tersebut. Untuk itu pesan-pesan dalam resepsi pernikahan harus lebih diverbalkan sesuai alam pikir dunia mereka agar mudah dipahami, diresapi, dan dijadikan pegangan dalam menjalani hidup berkeluarga.

Konsep utama dari deklarasi visi pernikahan yang saya sampaikan pada para aktivis itu adalah penegasan pesan pernikahan yang  mudah dipahami, diresapi, dan dijadikan pegangan dalam menjalani hidup berkeluarga. Bentuknya saya serahkan pada mereka yang menjalaninya, sesuai situasi dan kondisi mereka. Bisa memodifkasi seperti bentuk sarasehan, pengajian, diskusi dan lainnya.

Adapun kalau saya yang memfasilitasi biasanya setiap pengantin saya minta menuliskan terlebih dahulu apa saja yang ingin dicapai dengan pernikahan. Tulisan itu lalu dicetak menjadi buku kenangan dan dipresentasikan saat resepsi pernikahan. Lalu para tetua dan senior diminta untuk menasehati pengantin dengan boleh mengkritik naskah deklarasi yang dipresentasikan. Lalu acara ditutup dengan doa.

Inti dari deklarasi visi pernikahan ada dua. Pertama adalah penegasan konsep keluarga ideal yang diinginkan secara tertulis sehingga bisa dibaca, dipahami, dan bisa dikritik juga. Karena tertulis maka akan mudah mengingatkan mereka yang menikah pada tujuan pernikahannya setiap saat. Demikian juga mudah bagi para senior dan tetua untuk memberi nasehat kepada pengantin berdua.

Inti kedua adalah transformasi dari visi yang dideklarasikan agar bisa meluas kepada undangan yang hadir. Jangan sampai acara resepsi pernikahan hanya memperluas kegelisahan mereka-mereka yang belum menikah. Deklarasi visi pernikahan dibuat agar orang semakin tercerahkan bahwa pernikahan sesungguhnya memiliki visi peradaban. Ada tanggung jawab sosial dalam pembentukan keluarga.

Selalu saya sampaikan dalam acara deklarasi visi pernikahan yang saya fasilitasi bahwa acara ini bukan bagian dari kebanggaan kelas aktivis. Ini bukan untuk menegaskan perbedaan kelas aktivis dengan kelas sosial yang lain. Tapi ini adalah upaya untuk memelihara etos tanggung jawab sosial yang melekat pada diri seorang aktivis. Dimana pun dan dalam aktivitas apapun juga seorang aktivis harus memiliki tanggung jawab sosial.

Namun, saya tidak tahu nanti bagaimana bentuk deklarasi visi pernikahan jika anak saya menikah nanti. Bentuk dan teknisnya masih harus saya diskusikan dengan anak saya. Tentu juga dengan calon menantu dan calon besan saya. Dalam masalah bentuk dan teknis, masih banyak yang bisa didiskusikan.
  • Bukan Sekedar Pernikahan Ala Aktivis
  • 0

Terkini