Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Alasan Urgensi Edukasi Seks, Antara Prokreasi dengan Fase Rekreasi

KURVANEWS.COM
06 Agustus 2020 | 20:08 WIB
Daydreaming, 2019, Christian Spangsperg
Kurvanews.com-Opini. Antara tanggal 25 juli hingga 26 Juli 2020, Pengadilan Agama di Kabupaten Jepara melakukan klarifikasi atas viralisasi 240 siswa SMA Jepara yang mengajukan dispensasi nikah. Dari keterangan Taskiyaturobihah selaku panitera pengadilan agama menyatakan “Dari 240 pemohon dispensasi nikah, memang ada dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen, sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, tetapi sudah berkeinginan menikah (Harian Republika, 26-7-2020).

Lima puluh persen dari 240 pemohon artinya terdapat 120 pemohon pasangan yang sudah hamil terlebih dahulu. Dalam lingkup makna relationship couple di kalangan remaja Jepara baik antara kelompok perempuan maupun kelompok laki-laki menjadi relasi yang berdasarkan suka sama suka serta saling mendorong hasrat seksual. Problemnya adalah responsibilitas dari hamil tersebut yang sesungguhnya merupakan implikasi relasi seksual. Hal ini menambah sejarah panjang mengenai trauma persepsi seksualitas sehingga mengakibatkan institusi sosial menguatkan kembali ancaman sanksi serta norma terhadap relasi seksual antar gender.

Relasi kultural untuk saling mengenal seksualitas antar gender kembali menjadi sangat defensif karena tidak ada pendidikan seks yang menjadi kelengkapan pengetahuan dalam menjalani kemungkinan timbulnya dorongan seksual. Kesetaraan gender dalam proses hubungan seksual terancam menjadi utopia kembali karena peristiwa dorongan hormon yang senantiasa mengalir dalam tubuh manusia junto mentalitas, dengan kutub normativitas yang dihimbaukan oleh segenap institusi institusi sosial di Indonesia.

Mari kita melakukan pemetaan dimensi seksualitas sekali lagi dengan perspektif edukasi seks dengan melacak kembali apa itu manusia sebagai makhluk seksual dan bagaimana tatabahasa perempuan dengan laki-laki tentang seksualitas dalam perkembangan fase perkenalan, pertumbuhan beserta pendewasaan pluralitas antara kelompok gender. Salah satu sumber kebahagiaan adalah membangun relationship mulai dari fase perkenalan hingga sama-sama membina hubungan secara berkelanjutan. Akan tetapi dari proses berkenalan dengan berkelanjutan terkadang memiliki beberapa problem yang tidak diutarakan. Yaitu kemampuan mengenal kesadaran serta batas-batas dalam menjalin hubungan seksual.

Bahasa perempuan dalam membangun relationship hingga ke tindakan seksual sebetulnya berasal dari kebutuhan akan afeksi atau cinta yang dimiliki (the need of love belonging) serta diperhatikan dari pasangannya, sebaliknya bahasa laki-laki adalah hasrat terpendam yang senantiasa mengalir dalam hormon laki-laki atau dibaca dari struktur mental psikoanalisa Freud ialah ID “libido” yang memerlukan sentuhan fisiologis dari pasangannya (Bernet, 2020).

Tatabahasa psikologi gender terkadang tidak dipahami melalui kesadaran penuh bahwa seks sebetulnya dimensi krusial bagi perkembangan kesehatan mental dan fisiologi manusia dengan rasionalisasi keterlibatan relasi sosial, karena implikasi dari kasus hamil diluar pernikahan sebetulnya merupakan fase rekreasi yang akhirnya melibatkan fase prokreasi sehingga memerlukan intervensi lembaga hukum serta institusi keluarga.

Transisi antara fase rekreasi dengan fase prokreasi sesungguhnya merupakan batas-batas hubungan seksual melalui pengetahuan kesadaran penuh mengenai implikasi apa yang selanjutnya dihadapi setiap pasangan dalam menjalin relationship. Pada posisi inilah bahwasa edukasi seks menjadi sangat urgen bagi setiap orang. Tidak adanya pengetahuan tentang seks merupakan posisi krusial bagi cara pengambilan keputusan dalam berhubungan seksual, karena dimensi seksual mengambil elemen subjektif serta objektif.

Dalam fase perkenalan sebagaimana umumnya bermula dari kriteria good personality, good performance, good admiration dan berakhir kepada good conversation. Good personality menjadi penilaian pertama apakah ada ketertarikan satu sama lain atau tidak, hal ini bersandar kepada dealing pertama apakah akan memutuskan open relationship atau friends with benefit dimana sepanjang fase perkenalan tentu terdapat proses saling mengenal. Penyair Leony Jardine (2019) mengatakan “like the closest have been drifted away, the friends more become like a strangers, strangely, the one who stays is just them who always looking for you if you push them away- it’s hard time for a couple”.

Fondasi edukasi seks berada mulai pada tahapan pengenalan atau dapat menjadi bekal pengetahuan dalam menjalani relasi seksual yang pertama. Psikolog Calvin Hall (1959) dalam sudut pandang psikoanalisis menyarankan agar terjadi proses pembelajaran dari pembentukan identifikasi, sublimasi, dispensasi, kompromi (dealing), penolakan (rejection), kompensasi (apresiasi) serta mekanisme pertahanan diri. Gambaran perkembangan kepribadian (developmental personality) sebagai akibat dari proses kemampuan mengenal bahasa organ dari lawan jenis beserta kondisi kematangan dari pertumbuhan yang normal, pelajaran mengatasi kegagalan serta upaya mengurangi kecemasan (Hall, 1959:158).

Proses ini menjadi tahapan paling penting untuk mengenal hubungan seksual sedang memerlukan apa dalam suasana yang dianggap bergairah, atau apa yang dianggap menjadi menarik dalam interaksi tersebut. Hal ini menjadi salah satu fondasi edukasi seks. Akan tetapi dalam kultur masyarakat terdapat opposite goal dalam internalisasi kelompok pria maupun kelompok perempuan.

Apabila distrukturkan antara kelompok pria dengan kelompok perempuan melalui analisa struktur mental dari Freud beserta elaborasi sosiolog psikoanalisis Aurel Kolnai (1922) maka dapat dipetakan sebagai berikut : Pertama, internalisasi kelompok pria berdasarkan tipe ideal ID (identity perception) atau human interest unconscious level ialah seksi, indah (beauty), serta body goal, sedangkan aspek berlawanan (opposite goal) dari internalisasi kelompok perempuan ialah tampan (handsome) serta punya tubuh atletis. Sebagaimana dapat digambarkan ID merupakan garis paripurna antara khayalan subjektif dengan kenyataan objektif. ID merupakan tenaga dorongan yang senantiasa membutuhkan penyaluran dari satu obyek kepada obyek lain, penyaluran dorongan ID dinamakan pemindahan atau Freud menyebut displacement (Freud,1920). ID adalah motif tersembunyi bagi tiap manusia yang selalu terkumpul dalam memori mimpi bisa suatu khayalan yang berdasarkan gambaran ideal dari penyiaran media atau lingkungan hidup setempat. Proses primer yang dilakukan ID dapat menimbulkan pikiran yang berdasarkan keinginan semata atau disebut autistic-thinking. ID memaksa ego untuk melihat dunia seperti yang diinginkan ID. ID dinyatakan sebagai proses primer dari perkembangan evolusi manusia sebagai bentuk tindakan serta motif dari pembawaan biologis (Freud, 1923).

Kedua, berdasarkan ego yang melakukan kontrol terhadap ID dengan super-ego yaitu berbasis pengaruh intervensi media serta role model komunitas terhadap internalisasi kelompok pria, sedangkan internalisasi kelompok perempuan ada pada role model. Ego merupakan proses penalaran hubungan resiprokal (timbal-balik) dalam mencapai tindakan sepakat pada suatu pasangan (as a couple). Proses penalaran dengan melakukan intervensi proses sekunder yang tidak dikonfirmasi melalui proses primer sehingga memisahkan antara dunia pikiran yang subjektif dengan perwujudan duniawi (objektif). Ego bertugas melakukan rasionalisasi dari naluri yang berasal dari ID sehingga bersamaan dengan bertambahnya kemampuan ego maka dorongan ID berkurang.

Ketiga, jenjang persepsi super-ego ialah ketertarikan sifat feminin terhadap internalisasi kelompok pria, sedangkan pada kelompok perempuan ialah berorientasi kepada power, keterkenalan, kehormatan, karismatik, prokreasi berkesinambungan, dan properti. Hal ini berdasarkan bahwa super-ego mengadili antara penghargaan dengan sanksi karena merupakan cerminan dari lembaga orang tua yang mengedepankan etika pertanggungjawaban. Peran lembaga orang tua atau komunitas setempat mewarisi seorang individu sebagai anak yang membawa nilai-nilai kehormatan baik dari segi sikap maupun kepemilikan kemewahan materiil (Freud, 1923).

Dalam fase pertumbuhan menjadi tahapan yang luput dirumuskan dalam kehidupan seksual suatu pasangan (as a couple). Fase pertumbuhan merupakan efek dan hasil dari kualitas perkenalan sehingga jika fase perkenalan hanya sebatas permukaan maka yang terjadi adalah proses saling melakukan tuntutan tersembunyi. Apakah transisi open relationship kepada exclusive relationship menjadi kesepakatan bersama atau tidak, lalu bagaimana konsekuensinya.

Dalam komunikasi fase pertumbuhan lazimnya masing-masing orang mampu menyatakan gagasan serta pendapat bagaimana menjalani hubungan seksual kepada pasangannya, karena disisi lain melibatkan emosi atau perasaan. Dapat dikatakan fase pertumbuhan merupakan hubungan puncak karena taraf komunikasi paling dalam (in depth) pada bingkai interaksi antar gender sehingga ditandai dengan keterbukaan (Supratiknya, 1995).

Suatu pasangan pada fase pertumbuhan selayaknya mengungkapkan isi hati dari refleksi hubungan seksual, dengan demikian terdapat proses saling percaya terhadap keputusan bersama. Tahap pertumbuhan merupakan proses paling intim yang melibatkan relasi emosional serta berkecenderungan subjektif karena orientasi realitas individu dengan kondisi masyarakat. Responsibilitas menjadi pertimbangan penting dalam hubungan seksual saat masa-masa saling memerlukan pertumbuhan yang proporsional.

Tentu perbincangan seks dalam setiap pasangan menjadi media komunikasi yang diperlukan, karena pada masa ini diharapkan adanya dialog mengenai jenis aktivitas seksual (sexual activity), upaya mengamankan satu sama lain dalam relasi seksual (safe sex), serta pengendalian kesadaran pasangan terhadap kontrol kelahiran (birth control) dengan kondisi status sosial suatu pasangan, bahkan aspek maternity atau kesehatan ibu dan anak menjadi theoretical consideration dalam aktualisasi edukasi seks (Tim Peneliti FIK UI, 2020).

Jika proses komunikasi pertumbuhan individu dalam pasangan tidak mampu menjadi kesadaran bersama maka dapat berpotensi terjadi trauma seksual kepada pihak perempuan pada umumnya. Tahapan pertumbuhan merupakan proses paling krusial bagi edukasi seks, karena hal ini melibatkan emosi yang naik-turun dalam setiap individu, atau apa yang merugikan dalam proses hubungan seksual. Alangkah seyogyanya dalam tahap ini memerlukan pedoman atau mentorship dari profesional konseling seks atau media edukasi seks yang kredibel.

Orientasi seksual dan latar belakang pekerjaan menjadi dasar pengetahuan individu dari motivasi keinginan untuk menjalani pemahaman serta kesadaran dalam proses hubungan seksual. Meminjam argumen dari studi seksual aliran modelling behavior mengisyaratkan bahwa setiap individu dalam pasangan senantiasa dalam keadaan masih tumbuh pada orientasi serta masing-masing impian seksual (Byrne, 1976).

Masa pertumbuhan merupakan fase menentukan apakah suatu relasi seksual ditetapkan dalam posisi rekreasi atau beranjak kepada prokreasi. Pada transisi ini terdapat suatu pola intervensi resmi institusi sosial seperti keluarga, agama, undang-undang negara dan lembaga hukum sipil menjadi pertimbangan diskursus publik. Sanksi atau apresiasi kehormatan merupakan penilaian institusi sosial dalam melihat posisi status pasangan dalam menjalani relasi seksual yang berorientasi kepada keputusan prokreasi.

Risiko sanksi sosial atau reaksi kehormatan dari masyarakat merupakan catatan institusi sosial sebagaimana direkam dalam sejarah seksualitas karya Michel Foucault (1977), maka dari itu berakibat kepada forum atau perbincangan yang tabu dalam mendiskusikan edukasi seks selain karena biaya konseling serta jasa psikiater terkesan tidak dapat dijangkau oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi perlu dicatat bahwa kekhawatiran institusi sosial pada dasarnya adalah kehidupan seks bebas yang menimbulkan konflik batin sehingga berpeluang terjadinya kecemburuan antar orang, dalam lingkup ini dapat dikatakan solusi peradaban yang hanya berlaku bagi masyarakat abad 19 (Foucault, 1977).

Tahapan selanjutnya adalah masa pendewasaan dalam pasangan prokreasi pada orientasi berkeluarga yang berinteraksi kepada kontestasi antar pasangan. Pada tahap ini, sistem apresiasi budaya terkadang tidak menyentuh realita batas-batas seksualitas sehingga terdapat nuansa saling membandingkan yang terkadang berakibat kepada hal-hal yang negatif karena tidak selamanya setiap individu mampu memenuhi hasrat seksual dalam proses berkeluarga. Maka tidak heran, jika dalam masa ini berpotensi muncul deviasi pola kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tentu saja hal ini mengancam keputusan akan prokreasi serta mampu memicu pola parenting yang akhirnya berimbas kepada kondisi mental seorang anak dari buah pasangan prokreasi.

Dalam narasi sejarah Indonesia bingkai kultur paternalistik, domain kepemimpinan laki-laki menjadi unsur signifikan dalam keputusan prokreasi sehingga memerlukan pengetahuan alokasi hak bagi perempuan dalam menjalani relasi seksual (Wieringa, 2002).

Keputusan prokreasi kepada transisi parenting memerlukan daya perhatian bagi tumbuh kembangnya anak-anak sehingga berimplikasi kepada orientasi tatabahasa moral yang mampu mengenalkan secara seimbang antara nilai-nilai institusi sosial dengan fungsi organ. Perihal ini berkesinambungan dengan edukasi seks mengenai kesehatan reproduksi serta pengekangan seksual (sexual restraint) karena ketersediaan dukungan finansial. Kematangan mengenali tatabahasa moral antar gender dalam melakukan proses relasi seksual merupakan keniscayaan suatu pasangan dimana terdapat dialektika antara keputusan prokreasi dengan rekreasi sehingga tetap berkesinambungan.

Dalam diskursus edukasi seks di Indonesia yang perlu menjadi urgensi adalah konstruksi gender. Sebagaimana dicatat oleh Kristi Poerwandari (2012) bahwa posisi perempuan selama ini hanya sekadar obyek dalam melampiaskan birahi seksual pasangannya. Poerwandari menggarisbawahi cukup banyak opini yang menganggap hubungan seksual terbaik yaitu dalam kerangka prokreasi, namun dalam praktik seks selalu menjadi rekreasi bagi laki-laki serta menjadi kewajiban prokreasi bagi perempuan yang menimbulkan relasi yang tidak setara.


Psikolog Kristi Poerwandari mengingatkan bahwa perlakuan buruk dalam hubungan seksual dapat memperkeruh memori komunitas gender dan bermuatan traumatis sehingga menimbulkan kesulitan untuk dapat menerima serta memerlukan refleksi menghormati diri sendiri. Menurut Poerwandari, perihal ini disebabkan bahwa perempuan sepanjang sejarah mengalami disfungsi seksual karena efek semata-mata memperlakukan sebagai obyek (Poerwandari, 2012).

Edukasi seks bagi Kristi Poerwandari dinilai urgen karena berpeluang mengantisipasi penyimpangan berupa perilaku kekerasan terhadap perempuan dalam proses hubungan seksual. Bahkan edukasi seks meminimalisir gangguan seksual sebagaimana fenomena fethish yang saat ini memakan korban dengan ekspresi memperlakukan korban dengan kain pocong sebagaimana kasus yang terjadi di Surabaya. Dalam fenomena fethish, pelaku memaksakan orang lain dengan manipulasi alasan yang masuk akal sebagai obyek dengan perantara benda yang dianggap mengesankan untuk menyalurkan subyek pikiran pelaku seksual sehingga terjadi displacement secara koersif (Amirin, 2020).

Fenomena perilaku seksual yang memerlukan pendampingan konseling sehingga menimbulkan kasus-kasus secara periodik adalah epidemi HIV/AIDS. Dalam studi perbandingan sosiologi yang dilakukan Argyo Demartoto, RB Soemanto dan Siti Zunariyah (2017) menyebutkan penularan HIV/AIDS di Bali sebesar 81.3 % melalui pergaulan seksual berjenis heteroseksual, sedangkan di Kota Surakarta terdapat peningkatan jumlah kumulatif sejak tahun 1993 hingga 2015 terdapat temuan 247 kasus AIDS dan 432 kasus HIV terhadap kelompok ibu rumah tangga (Demartoto, Soemanto, Zunariyah,2017). Maka dari itu, upaya edukasi seks sebagai pendampingan pedagogik dalam kacamata Poerwandari (2012) bertujuan untuk melakukan ketahanan psikologis sehingga praktik hubungan seksual ditargetkan menjadi relasi yang lebih sehat, bertanggung jawab dan mampu membahagiakan kelanggengan pasangan.

Masa-masa pendewasaan adalah bagaimana mengelola resep sentuhan emosi kepada pasangan supaya keabadian menjadi fairy tale atau love forever dalam setiap perjalanan hidup pasangan. Setiap individu dalam pasangan perlu memahami umpan balik kepada pasangannya, setidaknya tidak perlu memaksakan kehendak tetapi dengan ajakan yang positif. Umpan balik tidak perlu melebihi batas kemampuan pasangan yang tentu terkadang tidak disukainya.

Dalam proses pendewasaan, reaksi tentang kekecewaan terhadap pasangan bisa terjadi karena faktor eksternal seperti kecemasan kondisi finansial, karir, atau reaksi menanggapi permasalahan bersama yang tidak tepat. Freud (1908) memberikan tiga kategori kecemasan, pertama, tentang kecemasan tentang reaksi terhadap kenyataan (kecemasan obyektif). Kedua, kecemasan pengaruh saraf (neurotis), kecemasan saraf merupakan beban yang lebih berat terhadap ego daripada kecemasan obyektif (Hall,1959).

Dengan peningkatan usia maka terdapat pengembangan cara-cara untuk menguasai atau menghindari ancaman dari luar. Di masa kanak-kanak selamanya dapat lari dari obyek atau kondisi berbahaya, tetapi karena sumber kecemasan adalah daerah kepribadian sendiri (the self) maka sama sekali tidak mungkin untuk lari daripadanya (Hall,1959:92). Ketiga adalah kecemasan moril. Umumnya kecemasan yang kedua dan ketiga adalah kecemasan yang rata-rata dialami pada pasangan prokreasi (Hall, 1959).

Perbedaan ketiga kecemasan tersebut berasal dari hubungan sumber permasalahan seperti perasaan bersama mengenai hal-hal tidak aman yang dipengaruhi lingkungan. Reaksi individual seperti judgement tentang siapa salah atau ekspresi mempermasalahkan dapat menimbulkan feeling guilty jika dapat menguji kematangan pendewasaan suatu pasangan. Beberapa resep emotional healing mengisyaratkan dalam masa ini perlu dibarengi dengan nuansa humor untuk sekadar menyeimbangkan emosi supaya perasaan bersalah tidak menghantui setiap individu dalam pasangan, proses penyembuhan emosi berupa kecemasan serta perasaan kecewa adalah menjadikan pasangan seksual selayaknya mengukir persahabatan kembali (making friendship) dengan menerima kembali kenyataan yang ada melalui dukungan energi positif serta terdapat proses apresiatif seperti berkarya atau berbisnis bersama (Dinora, 2017).

Metode psikoterapi memberikan jalan lain yaitu memilih opsi sublimasi berkenaan dengan setiap orang tidak akan mampu menyempurnakan hasrat seksualnya karena opini kepantasan dalam masyarakat (Freud, 1908). Freud (1910) memberikan ilustrasi mengenai seorang Da Vinci yang merindukan seorang ibunya sehingga melukis Madonna yang tersohor dalam pameran seni rupa. Jalan psikoterapi memilih sublimasi atau pengalihan hasrat seksual ke dalam medium pekerjaan kemanusiaan, intelektuil, ekspresi pertunjukan seni serta sastra, ritual-spirituil serta artistik (Freud, 1910).

Pada akhirnya dasar edukasi seks baik dalam keputusan rekreasi maupun prokreasi adalah alokasi hak bagi perempuan, begitu juga sebaliknya dalam proses relasi seksual. Apa yang merugikan dari proses hubungan seksual memerlukan kesadaran bersama terlebih dahulu terutama mengenai konsekuensinya. Tahapan pertumbuhan merupakan masa krusial bagi interaksi pasangan seksual yang intim sehingga kecenderungan berkeputusan subjektif atau emosional, maka responsibilitas menjadi etika manusia dalam fase pertumbuhan.

Resolusi yang ditawarkan untuk melakukan antisipasi konflik batin adalah alokasi hak individu serta perbincangan seks sebagai media komunikatif. Oleh karena itu, edukasi seks memerlukan role model sebagai gaya hidup seks yang sehat, forum sharing media dan konseling yang profesional. Dengan demikian jika kesadaran-kesadaran tersebut dimiliki oleh setiap pasangan maka senantiasa akan menjadi sumber kebahagiaan hidup.


Penulis : A.M Arrozy, S.S., M.Sos
  • Alasan Urgensi Edukasi Seks, Antara Prokreasi dengan Fase Rekreasi
  • 0

Terkini