Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Virus Liberal Arts Dalam Menghadapi Industri 4.0 di Indonesia

A M Arrozy
19 Juli 2020 | 17:57 WIB
A M Arrozy, S.S., M.Sos. Foto/Istimewa
Kurvanews.com-OpiniDalam masa pandemi, mahasiswa Indonesia di kampus-kampus negeri Jawa Barat maupun Jawa Tengah dibebankan pembiayaan sistem uang kuliah tunggal (UKT) yang terbukti dengan ramainya ekspresi protes hastag samaran #InstitutPalingBorjuis #Kampusbicarajujur #KampusBohong. #InstitutPalingBorjuis dengan jumlah 8,600 tweets. #KampusBohong dengan tweets sebanyak 1.594. Isi keresahan mahasiswa mengenai mekanisme pelayanan kuliah, pembiayaan UKT serta penugasan akademik. Dengan pelayanan kuliah online serta tugas virtual yang membosankan karena sang mahasiswa terkadang tidak mengerti alasan yang penting untuk mengerjakan tugas tersebut, disusul hampanya interaksi sosial sebagaimana interaksi kelompok fakultas satu dengan fakultas lainnya di kantin mahasiswa atau antara kelompok generasi senior dengan generasi yang lebih muda.

Kampus-kampus negeri di era digital serta masa pandemi menjadi institusi pendidikan yang konservatif dalam menghadapi wacana Industri 4.0 di Indonesia, padahal Industri 4.0 memerlukan liberalisasi dalam pengembangan produk maupun layanan berbasis sense of art serta humaniora. Di kota-kota California, New York, Manchester, Melbourne serta Paris telah menyiapkan studi-studi art and humanities jauh sebelum menghadapi industri 4.0. Hal ini dibuktikan dengan kampus-kampus yang concerned terhadap pengembangan liberal arts seperti Caltech, Palo Alto, New School Social Research NY, New York University, Manchester University, RMIT University Melbourne, PSL Research Paris University, dan Griffith University.

Tulisan ini berupaya merancang stimulasi filosofi liberal arts untuk menghadapi industri 4.0 di Indonesia. Secara praktis, liberal arts berupaya memastikan desain produk di era aplikasi start up secara logis serta statistik dalam pikiran para owner dan provider terhadap pengambilan keputusan. Liberal arts secara klasik terdiri dari trivium berupa logika (atau dapat disebut dialektika deduksi-induksi), tatabahasa, dan retorika, sedangkan dari quadrivium berupa aritmatika, geometri, musik, serta astronomi.

Perkembangan sejarah modern menimbulkan fungsionalisasi liberal arts (modern usage) berubah menjadi penggunaan creative thinking terutama dalam jurusan seni pertunjukan, literatur, musik, dan etnomusikologi. Tentu saja, industri hiburan memerlukan tenaga-tenaga lulusan liberal arts di bidang penyiaran dan perfilman terutama masa-masa perkembangan hollywood dalam bidang penulisan skrip film sebagaimana dialog, pengadeganan film, konsep dramatisme serta ekspresi romantisisme.

Penggunaan filsafat liberal arts dijelajahi secara modern oleh kritikus sastra George Santayana (1863-1952) untuk mengelola well-ordered sumber daya manusia ke dalam ranah kreasi serta inovasi pertunjukan seni dimana kehidupan memerlukan alasan penting baik bagi spiritual dan cara mengalokasikan sains, agama, serta kompleksitas kemampuan sosial. Sebagaimana dalam kajian musik modern tidak hanya berpangkal kepada notasi mayor-minor, melodi dan irama namun beatmaking, intonasi, reef serta isu tematik dalam lirik menjadi elemen penting bagi produk musikalitas kontemporer. Pengembangan sumber daya manusia kreatif melalui proper role atau penekanan peran yang tepat antara produsen dengan audien (Santayana, 1998).

Argumentasi penggunaan liberal arts perspektif Santayana bertujuan bagaimana desain layanan atau desain produk memberikan nilai tambah berupa human connection antara provider dengan audien. Atau minimum dalam setiap individu terdapat performansi sosial atau bagaimana audien tertarik kepada program atau produk anda. Atau bagaimana anda mengelola formulasi emosi atau narasi kepada audien serta bagaimana memperlakukan subjek audien dalam situasi serta momentum tertentu. Bagaimana kemampuan sosial mahasiswa melakukan negosiasi dalam kenyataan sehari-hari. Akan tetapi proses sosial-kreatif tidak akan didapatkan jika suatu grup atau institusi tidak berupaya membebaskan diri sendiri tentang berbagai pilihan desain kesenian sebagaimana sutradara Rabiger (1998) pernah menyinggung “we cannot urge liberation in others until we have first liberated ourselves “, pada sekuensi inilah diperlukan pilihan-pilihan mengenai liberal arts untuk menghadapi industri 4.0. Maka secara praktis, peranan mentoring serta mannership atau cara merespon menjadi posisi stratejik dalam pengembangan liberal arts dalam menghadapi industri 4.0. Perihal ini disebabkan industri 4.0 memerlukan smart products yang berguna untuk self-diagnosing atau kanalisasi hiburan untuk melakukan kebebasan berekspresi serta bentuk-bentuk kebahagiaan sebagaimana survei global yang dilakukan Roland Berger (2016).

Tantangan yang krusial dalam pengembangan liberal arts adalah posisi pedagogiknya atau strategi mengajarkan bagaimana mahasiswa selalu menjadi antusias, bersiap untuk menjadi kreatif, serta memiliki penalaran yang seperlunya. Maka pada sekuensi ini diperlukan kelompok pengajar atau mentor yang berpikiran terbuka (open mind) dengan strategi pengajaran yang interaktif serta didukung dengan lingkungan institusi yang ugahari.

Espektasi yang paling berpeluang dalam pengembangan pedagogi liberal arts yaitu berada di garda depan jurusan-jurusan seni pertunjukan, desain komunikasi visual, film, fashion studies, jurnalisme, penyiaran, advertising, fotografi, food studies, sejarah seni (history of art), cultural studies, dan sosiatri. Akan tetapi espektasi itu diperlukan upaya-upaya institusional yang tentu dalam ranah Indonesia bertemu dengan kendala birokratisasi serta kompetisi industri pendidikan.

Virus liberal arts secara esensial berupaya mencairkan disiplin yang rigid dalam sains serta ilmu sosial yang positivistik seperti manajemen, ekonomi, dan psikologi supaya asas human connection menjadi relevan kembali dalam menghadapi industri 4.0, serta bagaimana kualitas workforce yang tidak defensif atau minimal open minded terhadap pluralitas calon pelanggan atau klien.

Human connection menjadi variabel penting bagi sistem ekonomi industri 4.0 dibasiskan dengan desain produk atau jasa mampu menyentuh emosi manusia melalui narasi, story-telling, serta pelayanan yang berkesan sehingga produk atau jasa tidak selalu statis dalam perkembangan aktual (Thaler, 2017). Lulusan dengan sense of liberal arts setidaknya dapat membaca perilaku ekonomi serta preferensi kelompok respektif kemudian menuntaskannya dengan creative thinking sehingga hal ini menjadi nilai tambah bagi produk maupun pelayanan industri 4.0. Liberal arts merupakan salah satu komposisi fundamental tentang upaya memasarkan produk dalam ekosistem industri 4.0 dengan dialektika isu-isu humaniora sebagaimana kredo ekonom Paul Krugman “isn’t about money, its about people do”.
  • Virus Liberal Arts Dalam Menghadapi Industri 4.0 di Indonesia
  • 0

Slider

Slider

Terkini