Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Trah HB II Tuntut Kembalikan Emas, Cek Sejarahnya

onlineKURVANEWS.COM
28 Juli 2020 | 23:36 WIB
ilustrasi. Foto/cmbcindonesia
Kurvanews.com-Nasional. Fakta sejarah kebesaran Kerajaan Mataram kembali terkuak, salah satunya sebagaimana yang disuarakan oleh Keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Mempelajari sejarah dan fakta yang terjadi di masa lalu  yaitu ketika terjadinya peristiwa  penjarahan harta dan berbagai pusaka dan kekayaan lain yang dilakukan secara barbar oleh tentara Inggris pada tahun 1812.

Pada peristiwa yang dikenal dengan “Geger Sepehi “ atau Geger Sepoy tersebut Pasukan Kerajaan Inggris  yang dipimpin Raffles bukan saja melululantakkan Bangunan Keraton tetapi juga merampas banyak  aset dan barang berharga. Karena itu Trah Keturunan HB II  melalui pemerintah Inggris, menuntut agar Inggris mengembalikan rampasan harta tersebut.

Sebagaimana disampaikan Fajar Bagoes Poetranto, Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II pada Sabtu (25/7), berdasar  informasi yang dia peroleh, ternyata jumlah harta yang dituntut untuk dikembalikan tidak main-main. Jumlah total emas yang dirampas Inggris pada peristiwa tersebut mencapai 57.000 ton.  Jika dikonversikan dengan nilai saat ini mencapai Rp 56,4 ribu triliun. "Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II".

Laman resmi Keraton Jogja menuliskan betapa  dahulu Kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta memang pernah mengalami masa penjarahan oleh pemerintah Inggris. Sumber lain menyebutkan bahwa terjadinya geger Sepoy dimana pasukan Inggris berhasil melumpuhkan dan menguasai Keraton Yogyakarta juga merupakan akibat dari konflik internal Keraton antara HB II dengan adik tirinya, Pangeran Notokusumo. Sebagai sesama putra Sultan HB I, Notokusumo merasa berhak menikmati kekuasaan.

Ambisi politik Pangeran Notokusumo ini didukung oleh Raffles sebagai wakil resmi Kerajaan Inggris. Kemudian terjadilah peperangan besar dan kemudian dikenal sebagai Seger Sepoy itu.

Peter Brian Ramsay Carey dalam Kuasa Ramalan yang terbit pada 2011 mengisahkan suasana jatuhnya Keraton Yogyakarta dimana saat pagi menjelang Sultan dan keluarganya keluar Keraton dengan berbusana serba putih. Dalam keadaan berbusana serba putih itu Sultan dan keluarganya diarak dengan pengawalan menuju Wisma Residen yang berlokasi di barat benteng Vredeburg.
Berbagai senjata, gamelan, wayang,  ratusan kitab sejarah Jawa, dan naskah-naskah daftar tanah kerajaan turut dijarah. Bahkan, Babad Bedhah ing Ngayogyakarta juga berkisah bahwa selama empat hari lebih harta rampasan perang diangkut dengan pedati ke Wisma Residen.

Kemenangan Pasukan Inggris yang dipimpin Letnan Gubernur Jenderal, Thomas Stamford Raffles diikuti dengan perampasan harta milik Keraton yang nilainya sekitar 200.000 hingga 1.200.000 dolar Spanyol.

Bahkan Kolonel Rollo Gillespie, seorang Panglima Tentara Inggris di Jawa, menjarah 800.000 dolar Spanyol. Sebanyak 74.000 dolar Spanyol (sekitar 27 miliar rupiah untuk kurs kini) untuk dirinya sendiri, sisanya dibagi-bagikan ke perwira lain di bawahnya. Sebagian lagi, sebesar 7.000 dolar Spanyol (sekitar 2,5 miliar rupiah untuk kurs kini) dibagikan kepada legiun Pangeran Prangwedana dari Mangkunagaran.

Sementara Pangeran Notokusumo yang berkoalisi dengan Raffless mendapatkan konsesi berupa kekuasaan yang meliputi area khusus di dalam Kota Yogyakarta dan kawasan yang disebut Adikarto (sekarang terletak di Kabupaten Kulon Progo bagian selatan) seluas 4.000 cacah.

Berdasarkan kontrak politik yang disepakati pada 17 Maret 1813 antara wakil Inggris dan Pangeran Notokusumo, berdirilah suatu pemerintahan baru di Yogyakarta - di luar kesultanan yang tetap dipimpin oleh sultan -- bernama Kadipaten Pakualaman. Pangeran Notokusumo menjadi Adipati di Kadipaten baru tersebut.Tanggal 29 Juni 1813, Pangeran Notokusumo dinobatkan sebagai penguasa Pakualaman dengan gelar Paku Alam I (Soedarisman Poerwokoesoemo, Kadipaten Pakualaman, 1985:148).


Mencermati besarnya kehilangan aset yang dialami Keraton Yogyakarta yang dirampas Inggris tersebut maka Keturunan HB II  menyampaikan tuntutan melalui Pemerintah Inggris untuk meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II. Apakah Kerajaan dan Pemerintah Inggris akan merespon tuntutan tersebut? Kita tunggu saja. *(kn/online)
  • Trah HB II Tuntut Kembalikan Emas, Cek Sejarahnya
  • 0

Terkini