Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Sapardi Djoko Damono, Sang Legenda itu Telah Berpulang

Arief Hartanto
19 Juli 2020 | 20:08 WIB
Supardi Djoko Damono. Foto/Gramedia
Pada Suatu Hari Nanti
- Sapardi Djoko Damono-
"Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini,
kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari"

Kurvanews.com-Opini. Hari ini Ahad 19 Juli 2020, tercekat hati ini disaat kutorehkan tulisan ini entah kenapa pula di bulan Juli yang biasanya terik menerpa semesta, mendung bahkan disela rintik hujan. Seolah menjadi wakil hati para pecinta sastra negeri berduka mengiringi kepergian Sang Legenda Sastra Sapardi Djoko Damono menghadap ke haribaan Sang Maha Pencipta  Keindahan. Sapardi berpulang di usianya yang ke-80. Pria yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 ini, meninggalkan dunia fana  di Eka Hospital BSD, Tangerang sekitar pukul 09.17 WIB pada Ahad 19 Juli  2020.

Sastrawan yang juga pengajar di Fakustas Sastra Universitas Indonesia ini dikenang sebagai seorang pujangga  Indonesia. Dari penanya, terlahir puisi-puisi yang penuh makna kehidupan. Refleksi aneka karya sastranya dikenal mendalam dan kaya karakter.

Puisi diatas, seolah sebuah pesan perpisahan yang sudah jauh hari disiapkan SDD, begitu ia biasa dipanggil. Pada puisi berjudul “Pada suatu Hari Nanti“ seolah SDD merasa jika perpisahan telah hampir tiba saatnya, dimana Ia berpulang untuk selamanya. Para pecinta sastra pasti merasa kehilangan dengan wafatnya SDD. Iya,  SDD memang telah meninggalkan dunia sastra yang telah membesarkannya. Tapi kita semua tetap bisa menjumpainya melalui torehan pena yang kata-kata gubahannya kaya makna.

Mengutip dari Majalah Balairung 19 Oktober 2018 dimana dalam ulasannya ditegaskan bahwa  “Sapardi Djoko Damono adalah penyair yang identik dengan kesederhanaan. Semua terungkap lewat cara bertutur dalam puisi-puisinya, maupun dalam keseharian. Kesederhanaan itu diolah dengan manis, menjadi senjata andalan bagi keseluruhan karyanya”.

Mungkin ini penggambaran yang tepat dari  peribahasa “simply is beauty”,  keindahan yang terpancar justru dari sebuah kesederhaan namun disajikan dengan penuh kedalaman dan dari hati yang tulus. Apa yang disampikan dengan hati maka akan sampai pula ke hati. Awal kehidupan sastranya dimulai sejak usianya yang masih muda, bahkan belia, ketika masih berstatus sebagai pelajar di SMP Negeri 2 Surakarta. Setelah lulus SMP tahun 1955, SDD melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 2 Surakarta dan luluus tahun 1958.  Darah seninya telah mulai bergelora seiring semangat mudanya. Terbukti Sapardi muda telah banyak menulis di berbagai majalah.

Dunia sastra semakin membuncah ketika dirinya kuliah dan dan menimba ilmu  di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bakat sebagai seorang penyair semakin terasah, tumbuh dan berkembang melalui  pergaulan dan pergulatan dengan para sastrawan dan seniman di kota Pelajar. Kepenyairannya semakin matang yang terlihat dengan karyanya yang semakin banyak.
Tahun 1973, menjadi salah satu tonggak SDD untuk melebarkan sayapnya dari Semarang ke Jakarta, ketika SDD dipercaya menjadi nahkoda  majalah sastra Horison, yang diterbitkan oleh Yayasan Indonesia, sebagai Direktur pelaksana.

Kariernya sebagai pengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia  dimualai sejak tahun 1974. Karier serta karya sastranya terus berkembang dan jabatan sebagai Dekan FIB UI periode 1995-1999  diamanahkan kepadanya dan kemudian ditahbiskan menjadi guru besar.  Seiring waktu pula SDD juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur.
Berbagai bentuk penghargaan  menghiasi pengembaraan Sapardi Djoko Damono pada tahun 1986, mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. Pernikahannya dengan dengan  perempuan idaman hatinya Wardiningsih yang menjadi penyemangat dan pendampingnya melahiran seorang putra dan seorang putri.

Emha Ainun Nadib, Cak Nun, seorang Budayawan  mengenang sosoknya sebagai  sosok penyair, intelektual, dan budayawan yang murni berhati suci. “Dalam warna-warni pelangi pengenalan 50 tahun saya di dunia puisi Indonesia –Djokodam” adalah guratan warna dan cahaya yang bersih dan indah, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.” Demikian kata Caknun dalam Caknun.com.
Selamat  Jalan Pujangga Sastra Indonesia,  karyamu  akan terus menjadi jalan pengabdian dalam pencarianmu menuju sang Maha Pencipta Keindahan.  Husnul Khotimah. Aamiin
  • Sapardi Djoko Damono, Sang Legenda itu Telah Berpulang
  • 0

Terkini