Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Salah Menafsirkan, Pemerintah Resmi Hapus New Normal Karena Tidak Efektif

KURVANEWS.COM
12 Juli 2020 | 22:20 WIB
foto, ketua tim gugus tuga penanganan covid/kompas
Kurva News-Nasional. Terlanjur viral di masyarakat, Pemerintah resmi hapus new normal, Achmad Yurianto beber istilah penggantinya.

Istilah new normal sudah familiar di telinga warga Indonesia sejak Presiden Jokowi menggaungkannya untuk mengajak masyarakat berdamai dengan Virus Corona atau covid-19.

Namun, belakangan Pemerintah melalui Gugus Tugas covid-19 mengakui istilah new normal salah, dan akan menggantinya.

Jubir Gugus Tugas covid-19 Achmad Yurianto pun menuturkan Pemerintah sudah punya istilah baru, pengganti new normal.

Istilah new normal yang dicanangkan pemerintah beberapa waktu lalu bakal dihapuskan.

Kebijakan ini diambil setelah melihat realita yang ada di lapangan.

Selanjutnya istilah new normal bakal diganti dengan kebiasaan baru untuk menggambarkan kondisi hidup berdampingan dengan virus Corona atau covid-19

Pemerintah mengaku salah menggunakan istilah new normal yang sering digunakan untuk hidup berdampingan di tengah Covid-19.

Hal tersebut diungkapkan oleh juru bicara pemerintah penanganan Covid-19 Achmad Yurianto.

Penggunaan istilah new normal kemudian diganti dengan kebiasaan baru.

"Diksi new normal dari awal diksi itu segera ubah. new normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adptasi kebiasaan baru," kata Achmad Yurianto, Jumat (10/7/2020), seperti dikutip dari Kompas.com.

Yuri mengatakan istilah new normal ini sulit dipahami oleh masyarakat.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Brian Sriphastuti.

Menurutnya, istilah new normal ini memang tidak mudah dimengerti masyarakat.

Banyak masyarakat yang tidak paham lantaran istilah new normal menggunakan bahasa asing.

"Pemahaman menggunakan 'new normal' sendiri, karena ada unsur bahasa asingnya, kemudian tidak mudah dipahami," kata Brian, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (11/7/2020).

Brian mengatakan new normal seharusnya dimaknai sebagai adaptasi perilaku dalam menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun.

"Jadi yang ditonjolkan bukan situasinya, tapi perilaku kita yang harus disesuaikan dengan situasi yang terjadi," kata Brian.

"Perilaku yang bisa membatasi atau menghindari transimisi persebaran lebih lanjut dari orang ke orang supaya tidak terinfeksi atau terpapar virus ini," ujar dia.

Penggunaan istilah new normal membuat masyarakat hanya berfokusi pada situasi "normal".

Padahal, menurut Brian, saat ini Covid-19 masih belum sepenuhnya hilang di lingkungan sekitar.

------------------

Tips Adaptasi Era New Normal

Mewabahnya virus Corona atau covid-19 membuat seluruh dunia harus beradaptasi dengan rutinitas yang disebut new normal atau kenormalan baru.

Pandemi virus Corona atau covid-19 membuat kita harus beradaptasi dengan kebiasaan baru atau yang disebut new normal.

Tentunya, proses adaptasi ini menjadi tantangan tersendiri untuk sebagian orang.

Sebab, proses adaptasi bisa menimbulkan gangguan psikologis yang serius untuk beberapa orang.

Lalu, bagaimana cara beradaptasi dengan new normal?

Dilansir dari Cleveland berikut adalah empat hal yang perlu dilakukan untuk beradaptasi dengan rutinitas baru atau new normal.


1. Berdamai dengan keadaan

Menurut psikolog klinis Adam Borland, hal yang paling penting agar bisa beradaptasi dengan new normal adalah menerima kenyataan bahwa hal ini juga dialami oleh semua orang.

Beradaptasi memang akan menyebabkan rasa kecewa dan frustrasi, akan tetapi Borland menyarankan agar kita tetap berusaha melewati proses adaptasi dengan mempertahankan rutinitas harian.

"Ada banyak hal di luar kendali namun kita tetap harus bisa mempertahankan rutinitas harian, seperti mengerjakan tugas-tugas yang bisa kita selesaikan untuk mendapatkan pencapaian nyata," ucapnya.


2. Tetap terhubung dengan orang lain

Kecewa dan frustrasi adalah perasaan yang tidak bisa dihindari di tengah situasi seperti ini.

Borland menyarankan agar kita tetap terhubung dengan orang lain.

"Kita bisa dengan mudah terbawa emosi negatif, terutama perasaan ter isolasi dan kesepian," katanya.

Untuk mengurangi pengaruh negatif, cobalah untuk berkomunikasi dan menceritakan apa yang kita rasakan kepada teman, keluarga atau orang terdekat.

Cara ini dipercaya mampu membantu kita agar tidak lagi merasa sendiri.

Hal tersebut juga berlaku di dunia pekerjaan.

Agar pekerjaan tetap lancar, kita harus memiliki komunikasi yang lancar dengan atasan dan rekan kerja kita.

Dengan tetap terhubung dengan rekan kerja atau atasan, maka kita bisa mendiskusikan dan mencari solusi dari hambatan pekerjaan yang kita alami.


3. Fokus pada masa kini

Borland menjelaskan bahwa situasi pandemi akan membuat kita selalu membayangkan hal buruk atau masa depan dan menyesali apa yang seharusnya kita lakukan di masa lalu.

"Sangat sulit untuk berfokus pada masa kini karena banyak orang memiliki spekulasi dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi di hari esok," ucap Borland.

Menurut Borland, hal tersebut justru akan membuat kita tidak bisa beradaptasi dengan keadaan masa kini.

"Biarkan segala sesuatunya terjadi. Hal yang perlu kita lakukan adalah fokus pada masa kini dan mengerjakan apa yang harus kita selesaikan," tambah Borland.


4. Menyeimbangkan emosi

Saat beradaptasi dengan keadaan atau situasi yang baru, memang suit menyeimbangkan emosi.

Meski demikian, keseimbangan emosi perlu dijaga agar kita tetap tenang di situasi yang tidak pasti seperti sekarang.

Selain itu, keseimbangan emosi juga berpengaruh pada kesehatan fisik.

Untuk mencapai keseimbangan emosi maka yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi perasaan tanpa melakukan penghakiman.

"Tak masalah jika kita merasa sedih, kecewa dan marah. Yang perlu kita lakukan adalah menerima perasaan itu tanpa ada penyesalan atau menyalahkan diri sendiri," ucap Borland. (om1/S)

Sumber : tribunkaltim
  • Salah Menafsirkan, Pemerintah Resmi Hapus New Normal Karena Tidak Efektif
  • 0

Terkini