Notification

×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Iklan Beranda

Pemerintah Lambat Tangani Covid-19, Pakar UGM : Indonesia Terancam Resesi

onlineKURVANEWS.COM
17 Juli 2020 | 12:31 WIB

foto/suhtterstock
Kurvanews.com-Yogyakarta. Presiden Jokowi dihadapkan pada pilihan sulit sekaligus yakni masalah pandemik dan ancaman resesi ekonomi.

Peningkatan kasus corona yang dihadapkan, pemerintah memperkirakan kondisi ekonomi dalam negeri pada kuartal dua 2020 minus hingga 3,8 persen.

Apabila perkiraan itu benar dan kondisi pertumbuhan minus berlanjut pada kuartal tiga, Indonesia dipastikan mengalami resesi.

Pakar Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Dr. Eddy Junarsin, mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal tiga mulai Juli hingga September 2020, Indonesia dipastikan mengalami resesi apabila pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut negatif.

"Di kuartal dua mulai April - Juni 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi minus antara -3,5 persen hingga -5,1 persen. Sebab kuartal tiga sangat menentukan, apabila pertumbuhannya berlanjut negatif maka Indonesia masuk resesi", ujar Pakar Ekonomi Dr. Eddy Junarsin, dikutip pada laman UGM.

Menurutnya perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal tiga masih akan kembali negatif dan memasuki resesi apabila pemerintah tidak mengambil kebijakan yang lebih akurat dan konsisten dalam menangani wabah virus corona di tanah air.

"Apabila kebijakan penanganan lambat atau tidak sinkron, maka efeknya akan bekepanjangan, dan semakin parah kondisi perekonomian kita. Waktu recovery-nya pun akan semakin panjang, karenanya penanganan covid-19 perlu segera dipebaiki", imbuhnya, dikutip pada laman UGM.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis universitas ternama ini menyebutkan, agar bisa keluar dari resesi pemerintah perlu memberikan stimulus dengan membentuk jejaring pengaman sosial dan intensif bagi dunia usaha.

Terutama kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) nasional diterapkan secara total dalam periode singkat.

Sementara itu, stimulus moneter dengan penurunan suku bunga mampu menarik minat investor untuk kembali melakukan ekspansi usaha.

"Dalam jangka pendek, metode darurat berupa pembelian kembali surat berharga pemerintah oleh Bank Indonesia (quantitative easing) perlu dilakukan untuk menopang perekonomian agar tidak lumpuh. Konsekuenasinya memang akan menyebabkan inflationary pressure setahun kedepan, harapannya perekonomian bisa kembali normal setelahnya", ungkapnya, dikutip pada laman UGM.

Eddy memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali normal pada kuartal IV, jika pemerintah dapat segera menangani wabah covid-19 dengan baik dan meredah.


Namun, bisa memunculkan resiko social unrest bila pemerintah gagal mengatasi covid-19, karena tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi.

"Kalau resesi berlangsung kuartal satu sampai dua, resilience pemerintah dan masyarakat barangkali masih bisa terjaga, namun  jika lebih dari kuartal tiga maka potensi munculnya social unret sangat besar", ungkapnya, dikutip pada laman UGM.

Indonesia pernah mengalami resesi pada periode krisis 1998, namun demikian periode tersebut berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini.

"Resesi 98, secara umum hanya melanda kawasan Asia Tenggara. Kalau situasi saat ini situasi lebih buruk karena melnda sluruh kawasan dunia sehingga pemulihannya juga lebih kompleks", tutupnya. *
  • Pemerintah Lambat Tangani Covid-19, Pakar UGM : Indonesia Terancam Resesi
  • 0

Terkini